myanmar
Demonstrasi besar-besaran menentang terjadi pada hari Minggu (7/3) di Mandalay dan kota-kota lainnya. (Foto: AP/Theguardian.com)

ELANGNEWS.COM, Myanmar – Meski sehari sebelumnya, Sabtu (6/3), militer Myanmar melakukan penangkapan paksa terhadap ribuan aktivis, namun puluhan ribu orang tetap menggelar demonstrasi di Myanmar pada hari ini, Minggu (7/3).

Berdasarkan data dari sebuah lembaga advokasi, Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), lebih dari 1.700 orang telah ditahan di bawah junta pada hari Sabtu (6/3) kemarin.

“Tahanan dipukul dan ditendang dengan sepatu bot militer, dipukul dengan tongkat , dan kemudian diseret ke dalam kendaraan polisi,” kata AAPP. “Pasukan keamanan memasuki daerah pemukiman dan mencoba untuk menangkap pengunjuk rasa, dan menembaki rumah-rumah penduduk,” tambah AAPP, seperti dikutip dari The Guardian.

Sehari setelah tindakan brutal militer Myanmar tersebut, justru demonstrasi besar-besaran terjadi, masyarakat tumpah ruah membanjiri Kota Yangon.

Baca Juga:   Cawe-cawe Menlu Retno di Penanganan Konflik Myanmar

Masih dari The Guardian, Minggu (7/3), jumlah terbesar dalam protes hari Minggu terjadi di kota kedua Myanmar, Mandalay, di mana para aktivis menggelar protes duduk setelah dua menit hening untuk menghormati orang-orang yang dibunuh oleh polisi dan tentara.

Demonstrasi besar-besaran hari ini dipicu salah satunya karena tewasnya aktivis pro . Berdasarkan data, mengatakan pasukan Tatmadaw atau angkatan bersenjata Myanmar telah menewaskan lebih dari 50 orang sejak protes harian dimulai setelah militer menggulingkan dan menahan pemimpin terpilih pada 1 Februari.

“Mereka membunuh orang seperti membunuh burung dan ayam,” kata seorang pemimpin protes kepada kerumunan di Dawei, di selatan negara itu. “Apa yang akan kita lakukan jika kita tidak memberontak melawan mereka? Kita harus memberontak,” dikutip dari The Guardian.

myanmar
Jenazah atau Deng Jia Xi, dibaringkan di Kuil China Yunnan setelah dia ditembak mati di bagian kepala saat mengikuti demonstrasi menentang kudeta di Mandalay, Myanmar, pada 3 Maret 2021. (Foto: AP)

Adapun, kematian Kyal Sin yang berusia 19 tahun saat mengikuti aksi damai menentang pimpinan Jenderal pada 3 Maret 2021 yang lalu, sudah menjadi ikon bagi aktivis pro demokrasi Myanmar hari ini.

Baca Juga:   Akibat Kudeta Myanmar, Grup Axiata Terancam Gagal Raup Dana Investor Rp7,06 triliun

Pembunuhan itu telah memicu kemarahan di barat dan telah dikecam oleh sebagian besar negara demokrasi di Asia. Amerika Serikat dan beberapa negara barat lainnya telah memberlakukan sanksi terbatas pada junta. Sedangkan reaksi China hanya mengatakan bahwa prioritasnya haruslah stabilitas dan bahwa negara lain tidak boleh ikut campur dalam persoalan di Myanmar. (trd/red)