myanmar
memperingati Hari Angkatan Bersenjata, Sabtu (27/3/2021). Sumber: Elangnews.com/Myanmar TV.

“Sebanyak 16 aktivis pro- dikabarkan ditembak mati dalam demonstrasi yang digelar di Yangon dan sejumlah kota lain di tengah peringatan Hari Angkatan Bersenjata”

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Unjuk kekuatan senjata tempur dan parade ribuan pasukan mewarnai peringatan Hari Angkatan Bersenjata Myanmar ke-76 tahun, Sabtu, 27 Maret 2021.

Menurut sejarahnya, acara tahunan itu sebelumnya bernama ‘Hari Perlawanan’. Sebuah peringatan yang merujuk pada peristiwa 27 Maret 1945, dimana Angkatan Darat Nasional Birma bangkit melakukan perlawanan terhadap penjajahan Jepang di seluruh wilayah Birma.

Jenderal Senior , pemimpin , dalam pidatonya yang disiarkan melalui televisi nasional milik tentara (MRTV) pada Sabtu (27/3/2021) mengatakan, “Militer berusaha bergandengan tangan dengan seluruh bangsa untuk melindungi rakyat dan memperjuangkan demokrasi.”

Baca Juga:   Thailand Bantah Kirim Beras Untuk Bantu Junta Militer Myanmar

Sedangkan, di hari yang sama, Dr. Sachar juru bicara kelompok anti-junta atau CRPH, mengutuk keras pembantaian yang dilakukan oleh .

“Hari ini adalah hari yang memalukan bagi angkatan bersenjata, para jenderal militer merayakan Hari Angkatan Bersenjata setelah mereka membunuh lebih dari 300 warga sipil tak berdosa,” seperti dikutip Reuters, Sabtu (27/3/2021).

Pembunuhan, yang terjadi pada Hari Angkatan Bersenjata, menuai kecaman keras dari negara-negara Barat, seperti dikutip Reuters, Duta Besar Inggris Dan Chugg mengatakan pasukan keamanan telah “mempermalukan diri mereka sendiri” dan utusan AS menyebut kekerasan itu mengerikan.

Sedikitnya 16 orang tewas oleh pasukan keamanan, sebagaimana dilaporkan portal berita lokal Myanmar Now, empat dari mereka berada di luar kantor polisi di pinggiran kota Dala, Yangon.

Baca Juga:   Lebih 80 Demonstran Tewas Terkena Peluru Granat Aparat Junta Myanmar

Jet militer juga melancarkan serangan udara di sebuah desa di wilayah yang dikuasai oleh kelompok bersenjata dari etnis minoritas Karen dan sedikitnya dua orang tewas, kata satu kelompok masyarakat sipil.

Berdasarkan data dari sebuah lembaga advokasi, Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), hingga Jumat (26/3/2021) jumlah aktivis pro-demokrasi yang terbunuh sejak kudeta 1 Februari sebanyak 328 orang dan lebih dari 1.700 orang telah ditahan di bawah junta militer.

Diketahui, junta melancarkan serangan kudeta 1 Februari yang lalu untuk menggulingkan pemerintah yang sah pimpinan , dan sebanyak 24 menteri dijebloskan ke dalam penjara. (trd/red)