Gejolak Myanmar Meningkat, Menlu Cina Telepon Menlu Indonesia
Aksi demonstrasi di Myanmar. (sumber: myanmar-now.org)

Elangnews.com, Jakarta – Eskalasi demonstrasi di Myanmar terus meningkat, setelah pihak kepolisian menembak mati dua warga Myanmar. Ribuan warga terus turun ke jalan untuk melakukan aksi demonstrasi menolak adanya kudeta militer.

Berbagai kalangan mendesak agar Amerika Serikat berhenti terlibat untuk mempropaganda para peserta aksi. Selain itu ada desakan agar negara-negara ASEAN ikut terlibat meredakan ketegangan dan peristiwa berdarah di Myanmar.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan, pemerintah Cina berupaya agar situasi di Myanmar bisa kondusif dan aksi demonstrasi mereda. Salah satu caranya, yaitu menteri luar negeri Cina melakukan panggilan telepon dengan para menteri luar negeri ASEAN.

Beberapa di antaranya, berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Kedua Brunei Haji Erywan dan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi. Wang menyampaikan pesan bahwa China mendukung ASEAN dalam memperjuangkan prinsip non-blok dan tidak ikut mengintervensi konflik di Myanmar.

Baca:  Nekat, Menlu Retno akan Berkunjung ke Myanmar Di Tengah Konflik Kudeta

China mendukung ASEAN, mengadakan pertemuan khusus antar menteri luar negeri di kawasan. Agar dapat membantu Myanmar mengatasi kesulitan atas kebijakan politiknya. “Kami berharap negara-negara ASEAN memainkan sebuah peran aktif dalam mencari jalan keluar dan memiliki keterlibatan dan komunikasi dengan Myanmar sedini mungkin,” ujar Wang seperti dikutip dari globaltimes, (23/02).

Direktur Pusat Studi di Akademi Ilmu Sosial China yang meneliti Asia Tenggara, Xu Liping mengatakan penyelesaian konflik di Myanmar tergantung seberapa lama militer mampu mengendalikan situasi dan hasil persidangan Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi. “Itu semua adalah faktor yang akan mempengaruhi situasi di Myanmar,” kata Xu.

Baca:  Myanmar Bergejolak: Kudeta Militer karena Dugaan Kecurangan Pemilu

Menurutnya selain faktor internal, faktor eksternal juga turut memperburuk proses penyelesaian konflik Myanmar. Mulai dari ikut campur Amerika Serikat dan beberapa negara barat lainnya. Seperti diketahui, Presiden AS Joe Biden menyetujui sanksi terhadap junta Myanmar. “Sanksi Barat tidak membantu meredakan gejolak saat ini di Myanmar, atau mempertemukan semua pihak yang terlibat dalam transisi kekuasaan untuk mengadakan dialog yang konstruktif,” ujar Xu.

Aksi demonstrasi nasional di Myanmar meletus setelah junta militer menguasai negara itu pada 1 Februari. Tanpa ada tanda-tanda meredanya ketegangan, Xu, memperingatkan bahwa Myanmar menghadapi banyak ketidakpastian di masa depan.
(tup/red)

Berita Internasional : Gejolak Myanmar Meningkat, Menlu Cina Telepon Menlu Indonesia, ElangNews.com.