Uni Emirat Arab Guyur Investasi, Siapa Bilang Luhut Antek China?
Menteri Koordinator Maritim dan Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Maritim.go.id)

Elangnews.com, Jakarta – Siapa saja yang menyebut Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebagai harus berpikir ulang. Atau paling tidak harus berpikir jernih.

Setidaknya sudah dua kali dalam forum resmi Luhut membantah dirinya lebih contoh ke China atau disebut antek China dalam kebijakan investasi dan juga politik.

“Orang bilang dulu saya anteknya China, dalam hati saya bilang, nenek kau antek China emang lu bisa beli gue. Tapi saya mana yang bisa memberikan keuntungan bagi Republik ini, itu akan dekati dengan baik dan Amerika juga memberikan keuntungan,” kata Luhut dalam forum Rakernas Badan Pengkajiana dan Penerapan Teknologi (BPPT) 2021, Selasa (9/3/21).

Baca Juga:   Meski Melemah, IHSG Menjadi Yang Terbaik di Bursa Asia

Buktinya Luhut tidak hanya mendatangkan investor dari China — dengan alasan mau berbagi teknologi dan apa yang diminta disediakan — tetapi juga dari sejumlah negara lain di antaranya menarik dana dari .

Bahkan pada Jumat (5/3/20210, digelar Emirates Amazing Week 2021 di Jakarta menadai hubungan kerja sama Indonesia-UEA yang semakin erat.

Pertemuan itu menjadi ajang pertemuan tokoh bisnis antarkedua negara. Bahkan Luhut pun menyanjung UEA sebagai teladan karena negara Teluk ini mengalami transisi menjadi negara yang fokus pada industri produktif masa depan dalam inovasi dan energi.

“UEA juga telah berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakatnya hingga mampu menjadi salah satu negara yang memiliki pendapatan rata-rata paling tinggi di dunia,” ujarnya.

Baca Juga:   Serikat Pekerja Dukung Kejagung Bongkar Kasus BPJS Ketenagakerjaan

“UEA kini juga telah menjadi salah satu pusat keuangan dan ekonomi dunia,” Luhut memuji lagi.

Ada delapan dokumen yang ditandatangani Luhut dan Menteri Energi dan Infrastruktur UAE Suhail Al Mazrouei. Tiga perjanjian bilateral antara Indonesia dan UAE, serta lima perjanjian Business to Business.

Perjanjian-perjanjian tersebut seperti kerja sama Mangrove dengan UAE, Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama di bidang ekonomi kreatif, pengaturan teknis Konferensi Dunia mengenai Ekonomi Kreatif, Joint Venture (usaha patungan) antara Dubai Port (DP) World dan PT Maspion dalam pembangunan pelabuhan peti kemas di Jawa Timur, Kesepakatan Paspor Logistik Dunia, MoU antara PT Pindad-Caracal serya Pertamina-Adnoc. (Yat/Red)