Memperingati Hari Kopi Nasional dengan Diskusi dan Ngopi Bareng
Menteri Ristek/BRIN Bambang Brodjonegoro dalam diskusi . (Foto: YouTube)

Elangnews.com, Jakarta – Ada yang berbeda dalam memperingati Hari Kopi Nasional yang diperingati setiap tanggal 11 Maret. Tahun ini karena Indonesia masih dalam kondisi pagebluk Covid-19 peringatan Hari Kopi Nasional 2021 diperingati dalam suasana keprihatinan dan sederhana.

Tetapi bukan berarti, menyerah begitu saja. Kreatifitas dan inovasi dalam berbagai hal masih bisa dilakukan. Untuk penguatan pengetahuan misalnya diskusi lewat daring dari rumah masing-masing atau kantor tempat bekerja tidak mengurangi keseriusan.

Begitu juga ketika , Kemenristek/BRIN, Kemenperin, Kementan, Fakultas Pertanian UGM serta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) menggelar diskusi bertajuk “Penerapan Inovasi Teknologi di Bidang Kopi dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Nasional”, Rabu (10/3/2021).

Dalam paparannya Menteri Ristek/BRIN Bambang Brodjonegoro mengatakan kementeriannya terus mendorong riset inovasi teknologi tepat guna yang bisa digunakan petani kopi. Teknologi yang tepat guna, bisa mengoptimalkan hasil atau produk lokal serta dapat berdampak bisnis dan mengembangkan ekonomi rakyat.

“Teknologi tersebut di antaranya sudah dapat digunakan oleh masyarakat di Sumatra, Jawa Barat, Nusatenggara Barat dan Nusantenggara TimurTimur,” ujar Bambang.

“Dengan demikian muncul UKM-UKM kopi. Dalam istilah saya korporatisasi pertanian khusus perkebunan kopi dan akhirnya diharapkan ada yang melahirkan paten,” tambahnya.

Memperingati Hari Kopi Nasional dengan Diskusi dan Ngopi Bareng

Teknologi tepat guna juga, kata Bambang, diharapkan akan melahirkan kewirausahaan di bidang kopi. Bambang juga lebih suka menyebut UKM pertanian dibandingkan istilah petani. Karena pada dasarnya selama ini petani itu adalah pelaku usaha.

“Ada anggapan petani orang kerja, yang dipekerjakan di sektor pertanian padahal mereka sejatinya pengusaha usahanya di bidang pertanian,” ujarnya.

Di bidang kopi Kemenristek juga sangat serius. Kementeriannya, kata Bambang, menginisiasi terbentuknya Klaster Inovasi. Untuk sementara projek percontohannya di Sulawesi Selatan. Kemenristek tidak sendirian melainkan melibatkan Universitas Hasanuddin, Politeknik Pertanian Pangkep dan pemerintah daerah setempat. “Media juga dilibatkan dan industri mita,” ujarnya.

“Output dari klaster inovasi tersebut adalah green bean, roasting coffee, kopi bubuk,” kata Bambang.

Sementara outcame dari Klaster Inovasi ini menurut Bambang adanya keberlanjutan produk kopi di Indonesia dan juga dunia internasional. “Pilot project baru di Sulawesi dan nanti kalau berhasil diduplikasi untuk daerah lainnya,” kata Bambang.

Bambang juga mencatat ada potensi tersembunyi dalam industri kopi dalam negeri yang sangat potensial untuk dikembangkan. Banyak lahan atau kebun serta pabrik kopi zaman Belanda yang terbengkalai. Kopi ini sangat melegenda zaman dulu. Misalnya Kopi Sinagar di Sukabumi kini juga mulai dibangkitkan kembali.

Kopi Sinagar sudah menembus pasar global. Dikembangkan melalui Program Desa Berinovasi. Ini peninggalan Belanda dan dibangkitkan kembali,” ujarnya.

Bambang juga sangat optimistis industri kopi dalam negeri terus bangkit dengan keterlibatan kaum milenial dalam kegiatan bisnis kopi. Banyak startup kopi dikembangkan oleh anak-anak muda.

“Banyak anak muda milenial menjadi pengusaha pemula berbasis teknologi terkait kopi. Kita dorong nanti tidak hanya di bidang teknologinya saja,” kata Bambang.

Dalam acara tersebut, secara daring juga ada sesi minum kopi bareng yang dipimpin Ketua Umum Dekopi . “Mudah-mudahan dengan ngopi bareng, banyak diskusi akan melahir ide dan melakukan inovasi. Ngopi bareng sebagai simbol penuh harapan dan semua persoalan bisa kita selesaikan,” kata Menteri Pertanian dalam Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono ini. (Yat/Red)