Manipulasi Baja Impor, Krakatau Steel Diduga Rugikan Negara Rp10 Triliun
Suasana proses pengolahan baja di PT Cilegon Banten (6/2). (Sumber: Kontan/Achmad Fauzie)

Elangnews.com, Jakarta – Geger impor. Anggota DPR Fraksi Partai Demokrat membongkar dugaan praktik culas yang dilakukan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

Anggota DPR Komisi VII itu mengatakan Krakatau Steel berpotensi merugikan keuangan negara sekitar Rp10 triliun karena mengemplang pajak dari aktivitas impor baja asal China. Modusnya penghindaran pajaknya yaitu dengan mencap baja impor dengan merek Krakatau Steel.

Natsir mengungkap, ketika mendatangi salah satu perusahaan besar yang menggunakan baja sebagai bahan baku di Bekasi, dia menemukan faktur yang menunjukkan suplai baja terbesar perusahaan itu ternyata berasal dari Krakatau Steel.

Anehnya baja tersebut tidak diproduksi di dalam negeri melainkan hasil impor dari China. Menurut Natsir, karena ada cap Krakatau Steel, baja tersebut terhindar dari kewajiban perpajakan di dalam negeri.

“Karena perusahaan swasta ini setelah kita cek, cek, cek mereka juga enggak melebur bajanya di situ. Melebur bajanya dari China tapi barang ini dari China sudah dicap pakai Krakatau Steel,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII, (24/03).

Menurutnya, aksi penyimpangan ini mengakibatkan adanya selisih harga yang dinikmati Krakatau Steel dan pengemplangan pajak. “Sekarang kasusnya ada di Polda Metro Kurang lebih hampir Rp10 triliun. Nah saya nggak tahu ada apa di sini,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII, (24/03).

Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim membantah tudingan Natsir. Dia berjanji akan mengusut tuntas dugaan tersebut.

Menurutnya, selama ini Krakatau Steel memang tak pernah mengecap baja yang bukan diproduksi sendiri oleh perusahaan. “Krakatau Steel tidak memberikan hak mengecap dari produk di produksi di China. Apalagi besar sampai Rp10 triliun. Kami akan tindaklanjuti dari tadi saya cek semuanya termasuk dari yang sebelum kami menjabat apakah ada seperti itu,” kata Silmy.
(syah/red)