Ketika AS dan Cina Bersatu di Maluku, Olah Tembaga Indonesia
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Luhut Binsar Pandjaitan. (Sumber: Kemenko Marves)

Elangnews.com, Jakarta – Di tengah pertikaian antara Amerika Serikat dan Cina, perusahaan-perusahaan kedua negara tersebut bersatu, membangun smelter. PT , perusahaan asal AS dan Group, perusahaan dari China, akan menekan kerja sama pembangunan di Weda Bay, Halmahera Tengah, Utara, pekan depan.

Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Menurutnya, kerja sama kedua perusahaan besar tersebut akan menjadi suatu proses peningkatan nilai tambah buat Indonesia.

Baca Juga:   Jokowi Hapus Abu Batu Bara sebagai Limbah B3, Lonceng Kehancuran Kesehatan & Lingkungan

“Mudah-mudahan minggu depan kita akan tanda tangan pembangunan smelter di Weda Bay antara Freeport dengan Tsingshan,” katanya dalam diskusi bertajuk, “Mining Forum: Prospek Industri Minerba 2021 CNBC Indonesia”, Rabu (24/03).

Nantinya, sekitar 92,5% dari total nilai investasi berasal dari Tsingshan. Freeport hanya berkontribusi sebesar 7,5%. Sedangkan nilai proyek smelter ini mencapai US$ 2,5 miliar dengan kapasitas pengolahan 2,4 juta ton konsentrat tembaga (input) menjadi sekitar 600 ribu ton katoda tembaga.

Luhut menerangkan, pembangunan smelter juga akan mengolah produk turunan tembaga. Di samping itu, pembangunan smelter ini juga untuk mendukung produksi baterai lithium untuk kendaraan listrik.

Baca Juga:   Uni Emirat Arab Guyur Investasi, Siapa Bilang Luhut Antek China?

“China yang mau, dan dia nurut sama kita, sehingga kalau ini terjadi, sebagai bagian dari proses lithium battery yang akan kita rencanakan terjadi di tahun 2023,” jelasnya.

Setelah penandatanganan kerjasama, Freeport dan pemerintah Indonesia akan menyepakati revisi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) mengenai ekspor konsentrat dan persyaratan pembangunan smelter, pada 1 April 2021.
(syah/red)