Dewan Beras Nasional Tolak Impor, Keputusan di Tangan Jokowi
Keputusan jadi tidaknya kini di tangan Presiden . (Foto: Setkab)

Elangnews.com, Jakarta – secara resmi menolak rencana impor satu juta ton beras. Impor tidak urgen karena data dari Badan Pusat Statistik (BPS) memastikan puncak panen raya dipastikan Maret begitu juga Badan Urusan Logistik () juga masih menyimpan stok yang cukup.

Pernyataan itu disampaikan Ketua umum Plt Dewan Beras Nasional Maxdeyul Sola dalam jumpa pers virtual yang juga dihadiri Ketua Dewan Pembina Fadel Muhamad, anggota Dewan Pembina Jafar Hafsah dan Ketua Tony K, Selasa (23/3/2021) petang.

“Keputusan sekarang ada di tangan Presiden Jokowi karena impor beras ini sudah diputuskan di tingkat Menko Perekonomian,” kata Sola.

Sola juga mengatakan, Fadel Muhammad yang juga Wakil Ketua akan menyampaikan pandangan Dewan Beras Nasional kepada Presiden Jokowi. Fadel Muhammad yang menyampaikan secara langsung lewat sambungan telepon menegaskan penolakannya.

Baca Juga:   Terpilih Secara Aklamasi, Sutan Riska Pimpin Apkasi

“Kita menolak dengan tegas dan penolakan ini akan saya sampaikan kepada Presiden Jokowi,” ujarnya. “Tidak ada alasan impor beras.”

Sola menuturkan, kasus tahun ini mirip pada tahun 2006 ketika Dewan Beras Nasional terbentuk. Ketika itu juga heboh karena pemerintah berencana impor dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membatalkannya setelah deklarator Dewan Beras Nasional yang juga Ketua DPR Agung Laksono menemuinya langsung.

“Saat ini juga kita optimistis Presiden akan membatalkannya,” harapnya.

Jafar yang juga mantan anggota DPR dari menyatakan tidak alasan kuat pemerintah impor beras. Kalau memang sudah telanjur karena itu bisnis, Jafar menyarankan beras tersebut simpan dulu di negara asalnya. Nanti kalau sudah dibutuhkan tinggal kirim.

Baca Juga:   Ini Hubungan Impor Beras dan UU Omnibus Ciptaker Menurut Politikus Golkar

“Mungkin Agustus paling kita membutuhkannya,” ujarnya.

Mantan Dirjen Tanaman Pangan Kementan ini mengatakan dalam masa pandemi ini justru sektor yang tumbuh adalah bidang pertanian. Banyak usia produktif yang pulang kampung termasuk karena PHK dan mereka memilih bertani.

“Yang menganaggur kembali ke kampung dan bertani,” ujarnya.

Luas lahan panen kita saat ini, kata Jafar mencapai 10 juta hektare yang diperkirakan menghasilkan gabah 54 juta ton. “Januari kita punya beras 2 juta ton, Februari 6 juta ton, Maret 9 juta ton dan April juga 9 juta ton. Total semuanya bisa mencapai 17,5 juta ton. Tahun 2021 produksi baik-baik saja,” ujar Jafar. (Yat/Red)