Mengenal Lebih dekat Sosok Bapak Pendidikan Nasional : Ki Hajar Dewantara - Kategori berita: Berita PendidikanElangNews.com – Ki Hajar Dewantara juga dikenal sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, 1889-1959, adalah seorang penulis, kolumnis, politisi, dan penasihat kemerdekaan dari kekuasaan kolonial Belanda. Namun, ia mungkin paling diingat untuk perannya dalam pengembangan pendidikan di .

Berasal dari Yogyakarta, mendirikan sekolah pada tahun 1922 di Yogyakarta. sekolah ini menyediakan pendidikan untuk orang Indonesia asli, sedangkan pendidikan sebelumnya terbatas pada kolonial Belanda dan kaum bangsawan Jawa.

Lahir dalam keluarga bangsawan Jawa, Ki Hajar Dewantara memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan di Hindia Belanda : sekolah dasar (ELS) dan STOVIA (sekolah kedokteran untuk penduduk asli). Namun, dia tidak mampu menyelesaikan STOVIA karena suatu penyakit. Akhirnya ia mulai bekerja sebagai jurnalis, menulis untuk beberapa surat kabar.

  2 Mei : Sejarah dan Kisah Dibaliknya

Selama hari-harinya sebagai jurnalis, Ki Hajar Dewantara mulai menjadi semakin aktif dalam gerakan sosial dan politik yang bertujuan untuk melemahkan otoritas Belanda di Nusantara. Artikel-artikelnya di media cetak dipenuhi dengan sentimen anti-kolonial.

Pada 13 Juli 1913 Ki Hajar Dewantara menerbitkan sebuah artikel di surat kabar ‘De Expres’, berjudul “Als ik een Nederlander was” atau “Seandainya Aku Seorang Belanda.” Artikel ini termasuk kritik pedas terhadap rencana penjajah Belanda untuk mengumpulkan retribusi dari penduduk asli untuk membiayai perayaan terkait perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis. Otoritas Belanda tidak mengizinkan kritik semacam itu dan menangkap Ki Hajar Dewantara bersama rekan-rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo dan mereka diasingkan ke Belanda.

  Hadiah Spesial dari Sang Pahlawan kepada Pemerintah Hindia-Belanda : "Seandainya Aku Seorang Belanda"

Selama pengasingannya di Belanda Ki Hajar Dewantara memperoleh Sertifikat Guru Eropa dan ia mempelajari tentang gagasan Montessori dan Froebel, pelopor pendidikan barat. Beberapa tahun kemudian ketika dia tiba kembali di Indonesia, dia pertama kali mendirikan sebuah sekolah di Yogyakarta bersama dengan saudaranya. Kemudian, pada tahun 1922, ia mendirikan sekolah Taman Siswa. sebelum Taman Siswa, pendidikan di Indonesia hanya terbuka untuk orang-orang Belanda dan penduduk asli yang merupakan bagian dari kaum bangsawan. Selain pengetahuan umum para siswa juga diajarkan untuk mencintai Indonesia dan menghormati kesetaraan sosial. Ki Hajar Dewantara sendiri membatalkan gelar Jawa Raden Mas di depan namanya dalam gerakan untuk mendukung kesetaraan sosial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here